contoh pelatihan safety training bersertifikat

Pentingnya safety training dalam meningkatkan produktivitas kerja

28 September 0

Bagi setiap perusahaan menciptakan suasana yang kondusif dalam bekerja adalah hal yang wajib dicapai demi keberhasilan bisnis. Salah satunya adalah memperhatikan kondisi yang safety bagi karyawannya, agar karyawan dapat bekerja tanpa rasa takut atau was-was. Untuk mendukung tercapainya kondisi safety, perusahaan bisa memulainya dengan beberapa tahapan, yaitu menentukan kebijakan atau peraturan keselamatan kerja, melakukan perencanaan untuk program safety yang sudah disusun, melaksanakan peraturan yang sudah dibuat, memeriksa secara berkala peraturan tersebut, lalu melakukan audit atau peninjauan ulang untuk menentukan apakah peraturan tersebut masih relevan atau perlu diperbaharui. Situasi kerja yang kondusif tentu akan membantu karyawan perusahaan dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Selain membuat lingkungan kerja yang seaman mungkin, perusahaan dapat memberikan safety training bagi karyawannya, agar kondisi safety bukan hanya didukung dengan prasarana yang ada, namun juga orang-orang yang bekerja di lingkungan tersebut. Memang beberapa karyawan tidak akan langsung memahami mengenai safety training yang diberikan tanpa didukung praktek dalam kegiatan sehari-hari namun melalui training dan dukungan secara terus menerus karyawan akan terbiasa menjadikan safety sebagai salah satu hal yang wajib dilakukan. Perusahaan tidak boleh menyerah jika masih menemukan beberapa karyawannya belum menaati prosedur safety yang ada. Perusahaan bisa memberikan sanksi bagi karyawan yang bekerja dengan sembarangan dan dapat membahayakan orang lain. Supaya karyawan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Karena kecelakaan kerja, walaupun itu hal kecil dapat berpotensi menghilangkan nyawa karyawan dan tentu hal tersebut tentu tidak diinginkan baik oleh karyawan itu sendiri maupun oleh perusahaan.

Untuk menggambarkan kesadaran karyawan akan safety dalam suatu perusahaan, kita bisa belajar dari grafik disebut Kurva DuPont Bradley. Dalam kurva tersebut, digambarkan empat tingkatan, pertama disebut sebagai reactive yakni kondisi dimana karyawan melakukan tindakan safety berdasarkan insting atau karena ada peraturan yang dibuat oleh seorang manajer safety namun belum ada perhatian khusus dari manajemen. Kedua disebut dependent, kondisi yang hampir sama dengan reactive hanya pada tahap ini manajemen sudah ikut terlibat aktif dalam menentukan kebijakan safety. Ketiga independent, adalah kondisi dimana karyawan suatu perusahaan secara individu sudah menyadari akan pentingnya safety, dan menjadikan itu sebagai nilai diri. Keempat, interdependent adalah kondisi dimana dalam perusahaan secara keseluruhan karyawan sebagai suatu tim secara sadar dan bersama-sama menciptakan suatu suasana kerja yang aman bagi satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *