Munir Said Thalib

Misteri Pembunuhan Aktivis HAM Munir di Pesawat pada 14 Tahun Silam

16 January 0

Munir atau Munir Said Thalib lengkapnya merupakan seorang aktivis HAM yang telah menangani berbagai kasus, terkhusus kasus tentang kemanusiaan dan pelanggaran terhadap HAM yang dialami oleh masyarakat tertindas. Nama bersahaja ini dikenal dengan perjuangan besar yang diupayakan semasa hidupnya. Bayangkan, meskipun telah 14 tahun lamanya menutup usia, sosok Munir masih menjadi yang terkenang dan menjadi topik yang selalu diberitakan.  Munir diketahui meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam sebuah penerbangan. Misteri kematian Munir yang seakan sengaja ditutup-tutupi membuat para pembela HAM dan masyarakat geram hingga hari ini dengan hukum yang berat sebelah dan tidak  adil.

Mengenal Sosok Munir

Munir ialah seorang keturunan Arab Indonesia yang lahir di Malang pada 8 Desember 1965. Semasa mudanya, Munir sempat menjadi seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unibraw (Universitas Brawijaya) dan ia dikenal sebagai aktivis kampus yang berani, tangguh, jujur, konsisten dan selalu menegakkan keadilan. Pengalaman masa mudanya sebagai seorang aktivis membuat Munir ingin menekuni lebih dalam mengenai bidang hukum dan tertarik melakukan pembelaan terhadap beberapa kasus. Munir bahkan sempat diangkat menjadi Dewan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) yang dibentuk oleh sejumlah LSM, seperti LPHAM, AJI, CPSM, PIPHAM dan PMII.

Kontras memfokuskan diri pada pemantauan dan penyelesaian terdapap persoalan HAM yang selama ini sering mendapatkan pengaduan dari berbagai elemen masyarakat mengenai pelanggaran HAM yang terjadi di berbagai daerah Indonesia. Munir bahkan pernah terjun langsung untuk menyelesaikan beberapa kasus pelanggaran HAM berat yang dialami masyarakat. Sikap berani Munir dalam menentang ketidak adilan yang dilakukan pihak pemerintahan Orde Baru membuat Munir selalu menjadi incaran empuk sebagai objek yang dibenci pemerintah saat itu. Munir bahkan dikabarkan menjadi sasaran lingkaran merah pihak intelijen karena dianggap sebagai sosok yang berbahaya.

Ancaman Hingga Pembunuhan Munir

Dengan peran besarnya sebagai Dewan Kontras dan sangat mengkritisi ketidakadilan pemerintah membuat Munir sering kali menerima berbagai ancaman dari oknum-oknum tertentu. Akan tetapi, ia tetap tidak gentar dan selalu memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Nasib berkata lain, niat mulia Munir yang ingin menempuh studi di Amsterdam malah berujung dengan meninggal tepat 2 jam sebelum melakukan pendaratan. Dalam perjalanan udara, Munir dikabarkan mengalami sakit perut dan sempat mendapatkan pertolongan dari seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter. Kematian tidak wajar ini setelahnya menunjukkan hasil, di mana Munir dinyatakan tewas karena diracun, bukan karena masalah pencernaan yang dideritanya.

Kondisi ini membuat pihak kepolisian kembali membongkar makam Munir untuk melakukan autopsi dan berhasil ditemukan jejak-jejak racun. Mirisnya, misteri kematian Munir masih belum menemukan titik terang hingga hari ini. Memang pengadilan telah menetapkan tersangka Pollycarpus, akan tetapi kasus ini seakan ditutup-tutupi karena melibatkan Badan Intelijen Negara (BIN). 14 tahun pasca meninggalnya Munir sang aktivis pembela HAM, Pollycarpus pun telah menghirup udara bebas. Namun, ketidak adilan atas kematian Munir masih menjadi duka tersendiri untuk keluarga maupun publik yang membanggakan sosoknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *